Mengajarkan Kesehatan Emosi Kepada Anak Sejak Dini

Kesehatan emosi sama pentingnya dengan kesehatan lainnya, kalau bukan lebih penting dari yang kita duga. Sukses seseorang kini tak semata mengandalkan kecerdasan intelgensia (IQ) yang kini disangsikan peran besarnya. Bahkan diungkap kalau kecerdasan emosi (EQ) sedikitnya lima kali lebih besar peranannya untuk mengantarkan seseorang jadi sukses. Oleh karena itu kecerdasan emosi perlu dibangun pada setiap anak sedini mungkin.
Jiwa dan emosi anak itu bagaikan kertas putih, kita sebagai orang tua mengisi dan mewarnainya. Kita menyebutnya sebagai tabula rasa. Apa isi kertas anak kelak, apa pula warnanya, mencerminkan siapa yang membesarkannya, sekaligus akan menjadi apa nasib penghidupan anak nantinya.


Menanamkan hidup berdisiplin
Sekolah kita sekarang belum tentu menanamkan upaya mendidik. Kaidah pedagogik makin lemah karena sekolah cenderung hanya mengajarkan. Maka kelemahan pendidikan harus ditambahkan dari rumah. Orangtua yang bertugas membangun karakter anak. Ini sisi bersebelahan dengan emosi anak.
Untuk mencapai kesuksesan, pada diri anak perlu ditanamkan pendidikan berdisiplin. Makna berdisiplin bukan hanya sebatas soal tepat waktu dan ikut aturan semata, melainkan punya empat pilar. Menjunjung tinggi kebenaran, menerima tanggung jawab, menunda kepuasan dan seimbang dunia-akhirat.
Empat pilar itu yang membentuk karakter anak menuju manusia insan kamil. Itu maka perlu memilihkan anak sekolah yang lebih mementingkan upaya mendidik ketimbang hanya mengajarkan anak jadi pintar semata. Di sini letak pentingnya memilihkan sekolah perdana bagi anak.
Kalau anak terbentuk sikapnya mampu menjunjung tinggi kebenaran dari yang duniawi sampai yang rohani, arah jalannya akan lurus dan benar pula cara menempuhnya. Anak yang terbentuk menjunjung tinggi kebenaran, akan merasa risih kalau memasuki jalan yang tidak baik, seperti tidak menyontek, tidak berbohong, tidak melanggar aturan, dirasakan tabu baginya. Emosi anak dikalahkan oleh kebiasaan yang rasional dalam hidup berkebenaran. Anak tidak terbawa larut oleh emosinya.
Pada dasarnya manusia cenderung memilih dan betah berada dalam zona nyaman, dengan hidup santai berleha-leha oleh karena ikut yang benar dan lurus itu tidak menyenangkan. Hanya apabila emosi tidak dilatih tunduk pada rasio, maka yang terjadi penyimpangan pikiran, sikap, dan perbuatan.
Demikian pula halnya dengan perlunya menerima tanggung jawab. Anak tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya. Anak tahu batasan salah dan benar, baik dan buruk, sehingga kalau luput selama menempuh perjalanan hidupnya, ia tahu kealpaannya, dan secara ksatria sudi bertanggung jawab. Anak tahu jelas hak dan kewajibannya. Di sini emosi lebih cerdas memilih mana yang wajib dan mana yang menjadi hak.
Ihwal menunda kepuasan sebagai pilar lain bagi terbentuknya karakter anak yang matang, bahwa hanya bila anak ditanamkan mendahulukan yang wajib dan yang hak belakangan, maka emosi anak terlatih bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Semua riwayat orang sukses di dunia punya karakter seperti ini.
Pilar terakhir membangun sikap hidup seimbang tidak hanya memikirkan duniawi, sama pentingnya juga memikirkan akhirat. Baik di sekolah maupun di rumah sudah selayaknya anak diajarkan bukan hanya pendidikan akademis tetapi juga pendidikan moral. Makin matang emosi anak, makin sukses anak di dunia juga dalam iman. ***

Berita Terkait

Follow us and stay up to date on the latest news

SUBSCRIBE

PRODUK KAMI

Mitra

HUBUNGI KAMI

Senin – Jumat: 08:00 – 17:00
0800-1-800088 (Bebas Pulsa)
0818 06 800088 (sms & whatsapp)
@CombiCareCenter
51F0B55B / COMBICC