Kapan dan Siapa yang Berpotensi Obesitas

Obesitas saat ini sudah mewabah di dunia. Diperkirakan lebih 22 juta balita obese di dunia. Angka ini akan terus meningkat secara progresif, akan menimpa lintas kelas sosioekonomi, segala usia, gender, dan etnis. Mengapa obesitas dan siapa yang berpotensi begitu, kita bicarakan di sini.
Seseorang dikategorikan obese apabila indeks massa tubuh (body mass index) lebih dari 30. Indeks di antara 25-30 tergolong kelebihan berat badan (overweight). Sama-sama tidak sehatnya dan bertambah risiko terkena sindrom metabolik bila selain IMT lebih dari 30, disertai lingkar pinggang di atas persentil ke-90. Ratio lingkar perut dibanding lingkar pinggang lebih dari satu dimana kondisi normalnya kurang atau sama dengan satu.
 

Apple shape
Obesitas terlebih sejak usia kanak-kanak terkait dengan peningkatan risiko hipertensi, diabetes tipe-2, profil lemak darah (lipid) abnormal, dan “karat lemak” dinding pembuluh darah (atherosclerosis) kelak tumbuh lebih dini.
Masuk akal kalau sekarang serangan jantung dan stroke muncul pada usia lebih muda karena sudah gemuk sejak kecil. Kelirunya konsep sehat pada kebanyakan ibu menciptakan anak yang gemuk. Padahal anak sehat itu sejatinya tidak gemuk tetapi juga tidak kurus. Anak gemuk, kegemukan, apalagi obese, pasti bukan anak sehat.
Bukan saja kekurangan gizi, anak kelebihan gizi pun tergolong kasus gizi salah. Memberi makan secara berlebihan dan berlimpah, selain menambah jumlah sel tubuh, juga membuat sel-sel lebih besar dari normal. Kondisi sel-sel yang lebih besar inilah sehingga kegemukan sukar dikempiskan lagi. Oleh karena itu hendaknya tidak gemuk sejak bayi.
Sekarang bayi diharapkan lahir tak lebih dari 3kg saja. Idealnya waktu berumur 5 bulan naik dua kali berat lahir, dan menjadi tiga kali berat lahir sewaktu berumur setahun. Di atas setahun kita bisa menghitungnya dengan IMT, yaitu berat dalam Kg dibagi pangkat dua tinggi badan dalam meter. Indeksnya di antara 20-25. Kalau IMT dibiarkan terus di atas 25 itu menjadi awal anak kelebihan berat badan.
 

Kelebihan makan tapi kurang gerak
Tipe tubuh sendiri terpola secara genetik. Ada tipe tubuh rentan gemuk, selain ada yang berbakat sangat kurus. Namun menjadi obese merupakan interaksi dari faktor bawaan, hormon, pembakaran tubuh, kerja mesin tubuh (faali), lingkungan, dan sosiokultural. Dari ayah dan atau ibu yang gemuk akan lahir anak yang gemuk juga (familial tendency). Kunci kesalahannya terletak pada makanan yang dimakan.
Selain jenis menu pilihan cenderung yang terlalu banyak mengandung lemak dan gula, serta kaya karbo, porsi makan cenderung berlebih pula. Kebiasaan makan pada anak yang kurang tepat seperti anak masih makan walau sedang tidak lapar, sejak bayi porsi susu melebihi kebutuhan dan diperburuk dengan kondisi anak yang kurang bergerak.
Kini sudah tak lagi ada permainan tradisional yang mengajak anak banyak berlari. Anak lebih banyak duduk bermain video games, membuka komputer, miskin sekali pergerakan tubuhnya. Oleh karena kalori makanan yang diterima rata-rata melebihi kalori yang terpakai untuk beraktivitas fisik, maka surplus kalori dalam tubuh itu ditimbun menjadi gajih. Tumpukan gajih yang bikin kelebihan berat badan, pada tingkat puncak menjadi obese.
Perilaku makan tiga kali sehari, ngemil seperlunya, dan menu harian “meditterranean diet”, 60 persen karbo, 25 persen protein, dan hanya 15 persen lemak, dan bukan “tiger diet” mestinya tidak akan sampai menggemukkan. Camilan sendiri sering melebihi kalori menu utama, dan itu menjadi biang keladi kebanyakan anak kelebihan berat badan.
Sindroma “dagu berlipat” (double chin syndrome) bukan saja tak sedap dipandang, lebih dari itu, obesitas menjadi “bom waktu” kelak bakal bermunculan banyak penyakit yang berpotensi memicu kematian prematur (premature death)..***

Berita Terkait

Follow us and stay up to date on the latest news

SUBSCRIBE

PRODUK KAMI

Mitra

HUBUNGI KAMI

Senin – Jumat: 08:00 – 17:00
0800-1-800088 (Bebas Pulsa)
0818 06 800088 (sms & whatsapp)
@CombiCareCenter
51F0B55B / COMBICC