Apa Kesehatan Emosional itu?

Sehat tak cukup hanya fisik dan jiwa, terlebih secara sosial dan spiritualitas juga. Emosi bagian dari jiwa. Dalam hal kesehatan emosi kini menjadi penting karena makin disadari perannya dalam hidup dan kehidupan berdampak lebar. Betul peran emosi tidak terpisah dari pikiran, dan tindakan, namun lebih kuat dalam menentukan nasib dan karier seseorang. Bila emosi tak sehat, dampaknya lebih dari hanya pada badan, kinerja dan prestasi pun menjadi tumpul. Selain dibangun, kesehatan emosi perlu terus dipoles agar selalu naik kelas.

EMOSI bisa tampil positif, sering-sering bersifat negatif. Yang terakhir ini perlu dikekang sebab berpotensi merusak badan. Jantung, lambung paling dekat dengan emosi. Serangan jantung, stroke, keasaman lambung meningkat saat emosi meledak. Bila emosi buruk semacam ini berlangsung untuk waktu lama, jatuh stres menjadi ujungnya.

Lebih dari itu, terpasung emosi sehingga depresi, cemas, gundah, dan galau, bikin gula darah meninggi, darah makin “kental”, aliran darah otak menurun, selain anasir darah tertentu meningkat. Sebut saja C-reactive protein (CRP), ujungnya tak menyehatkan juga.

Bila emosi jahat dipelihara, lama-lama bisa stres juga.. Stres yang sama berlangsung untuk waktu lama begini yang sering dilupakan peran jahatnya mencetuskan jantung koroner, stroke, selain kanker. Kita menyebutnya malstress. Dalam kungkungan malstress, dayatahan tubuh melemah.

 

Membangun kesehatan emosi

Daniel Goleman mendahulukan kesehatan emosi, karena peran kecerdasan emosi lima kali lebih besar dari kecerdasan IQ. Untuk sukses hidup percuma pintar kalau emosinya sakit. Kekeliruan mengambil keputusan penting dalam hidup, hanya karena diambil ketika suasana emosional.

Sejak kecil emosi perlu dibangun menjadi cerdas. Berhasil mengendalikan emosi, sekaligus menampilkan pikiran, dan perilaku positif. Rasa dengki, iri, curiga, menjadi racun bagi jiwa, karena menjadi buruk pula tampilan hidup kita sepenuhnya. Amarah perlu ditekan dengan emosi positif menuju emosi yang bervitalitas. Vitalitas emosional dibangun supaya hidup tetap bergairah, penuh antusiasme, berpengharapan, tetap terjaga ellan vita.

 

Menuju jiwa tahan banting

Bila vitalitas emosional terbentuk, ketahanan jiwa jadi kokoh. Hanya bila jiwa tahan banting, empat stressor dalam hidup tak berhasil menumbangkan jiwa. Orang jatuh stres lebih karena jiwanya kurang digembleng. Padahal hidup sendiri penuh dengan stressor. Hanya bila jiwa mampu beradaptasi dengan serbuan empat stressor, yakni tekanan, konflik batin, frustrasi,dan krisis saja yang tak sampai menawarkan tindakan bunuh diri, atau depresi.

Emosi dan jiwa tahan banting dibina sejak kecil agar punya kemampuan melawan stressor. Mereka yang dari kecil hidupnya selalu mulus, perlu intervensi kegiatan sejenis outbond, live-in, demi merasakan bentuk stressor artificial, buat mengasah kecerdasan emosi.

Agar kecerdasan emosi selalu naik kelas, dalam upaya mengendalikan emosi, kita harus senantiasa menjadi murid. Terus belajar meniadakan suasana hati yang sumbang. Bila sumbang emosi kita, tentu terbaca pada ungkapan pikiran, dan apa wujud tindakan kita. Maka supaya manis hidup kita, tetaplah mengedepankan hanya emosi yang elok.

Berusaha tertawa salah satu pil berisikan rekreasi dan relaksasi bagi kesuburan emosi yang indah, sekaligus meningkatkan dayatahan tubuh karena IgA (immunoglobulin) ikut meningkat juga. Makin deras tertawa, hormon endorphin, sejenis morfin produksi tubuh pun makin meningkat, lalu makin menampilkan sekujur rasa sejahtera sentausa hidup kita.***

Berita Terkait

Follow us and stay up to date on the latest news

SUBSCRIBE

PRODUK KAMI

Mitra

HUBUNGI KAMI

Senin – Jumat: 08:00 – 17:00
0800-1-800088 (Bebas Pulsa)
0818 06 800088 (sms & whatsapp)
@CombiCareCenter
51F0B55B / COMBICC